RSS Feed

Category Archives: Uncategorized

Posted on

Image

Advertisements

Image for kaskus :) (DIY guitar pedal project)

Posted on

ImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImage

Deluxe Memory Man – Dirt Bag Deluxe redesigning layout effort

Posted on

ImageImageImage

Big plans = a lot of effort, a lot of trouble and a lot of fun.

Posted on

Currently i’m trying to planning something big while preparing everything for my first step to take a part in the 2 national olympiad each will be held on September and February, so i have 2 months to preparing and i will do my best ;-). Also I’d love to sign up in the national scientific project competition which the deadline is also in September and along with these main goal, i also planning to sign up on some competition relating to digital art, writing and making movie… pretty interesting aren’t they?

The last for tonight, I hope all of these things will going according to a plan and in the end I hope these all will give me a satisfying result :-).

Menengok Sejarah Perkembangan Kurikulum Indonesia

Posted on

Jika kita tengok sejarah pergantian kurikulum di Indonesia, maka di tahun ke-68 sejak Indonesia merdeka telah mengalami 9 kali pergantian kurikulum. Perkembangan yang dimaksud menurut penulis merupakan progress report sejauh mana kurikulum itu sendiri dijalankan dari masa ke masa. Penulis meninjau dari segi pergantian waktu sendiri memang dari awal memiliki kecenderungan waktu pelaksanaan yang berperiodik sampai akhirnya tahun 1997 mulai terjadi pergantian yang menurut penulis terindikasikan adanya perencanaan yang kurang matang jika menyoroti waktu pergantian yang relatif singkat. Terutama pada periode kurikulum KBK yang hanya terlaksana selama dua tahun yang kemudian digantikan oleh kurikulum KTSP. Memang benar bahwa tidak ada standar internasional yang menyatakan jangka waktu minimum berlakunya kurikulum di suatu negara, namun tidak bisa juga kita katakan bahwa hal tersebut merupakan hal yang wajar.

Penulis berpendapat bahwa justru dengan adanya pergantian yang terlalu singkat menyebabkan adanya tanggapan masyarakat yang kurang baik terhadap pemerintah, juga dari segi pembiayaan, pembaruan bahan ajar dan kompetensi tenaga pendidik juga terkesan terlalu dipaksa untuk memenuhi standar jika kurikulum diganti begitu saja. Hal tersebut dapat dimengerti karena kompetensi yang dituntut dan bahan ajar tentu akan berbeda dikarenakan tujuan dari kurikulum yang juga berbeda, yang akhirnya berujung pada bengkaknya pembiayaan.

Kurikulum sangat berkaitan erat dengan mutu pendidikan Indonesia, karena kurikulum sendiri merupakan rencana belajar yang menjadi kompas pendidikan di Indonesia, sehingga ketika mutu pendidikan itu rendah, maka salah satu faktor penting yang berpengaruh adalah kurikulum yang sedang dilaksanakan.  Salah satu indikator yang dapat dilihat adalah dari data survei yang diselenggarakan oleh lembaga/organisasi baik nasional ataupun internasional, berdasarkan survei dari World Competitive Year Book pada periode 1997-2007 menunjukkan bahwa dari 47 negara yang disurvai, pada tahun 1997 Indonesia berada pada urutan 39, pada tahun 1999, berada pada urutan 46. Tahun 2002, dari 49 negara yang disurvai, Indonesia berada pada urutan 47, dan pada 2007 dari 55 negara yang disurvai, Indonesia menempati posisi ke-53[1], selain itu mari kita tengok hasil survei yang dikemukakan oleh Balitbang (2003) bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP), dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP)[2]. Data-data survei tersebut secara kasar mengindikasikan bahwa mutu pendidikan masih rendah yang berhubungan dengan perkembangan kurikulum ke arah lebih baik yang belum optimal. Jika mempertimbangkan aspek kecepatan progressnya, yang mana mungkin saja progress perkembangan kurikulum di Indonesia masih kalah cepat dengan negara-negara lain maka syah-syah saja, namun demikian hal tersbebut masih mengindikasikan kekurangan dari kurikulum Indonesia karena belum mampu bersaing secara global. Bukan berarti penulis bermaksud berburuk sangka, hanya mencoba realistis sehingga penulis berharap banyak pihak yang tidak hanya diam, melainkan ikut serta memajukan pendidikan Indonesia. Semoga tulisan penulis dapat mengilhami, atau setidaknya dapat berguna menjadi bacaan ringan pembaca.

Footnote
[1][2]Syamsuri, Istamar. (2010). Peningkatan Kompetensi Guru. Bogor, IPB.

My First Official Journal :)

Posted on

Telaah Permasalahan Kompetensi Tenaga Pendidik sebagai Dasar Pertimbangan Pengembangan Kurikulum Efektif

Muhamad Imam Mutaqin

Jurusan Pendidikan Kimia, Universitas Pendidikan Indonesia, Setia Budi Bandung
e-mail : imamv4.01@gmail.com

Abstrak. Tingkat selektivitas yang relatif rendah pada proses pemilihan tenaga pendidik merupakan salah satu kesalahan fatal yang menjadi mata rantai kesalahan yang kurang diperhatikan dalam pengembangan kurikulum di Indonesia yang dinilai masih rendah mutu pendidikannya. Selain itu, proses pengawasan terhadap kinerja tenaga pendidik di lapangan pun dinilai masih belum optimal, sehingga peran dan fungsi pengawasan itu sendiri pun tidak berjalan semestinya. Akibatnya, proses pembelajaran menjadi tidak efektif, peserta didik pun terhambat untuk mencapai standar kompetensi yang diinginkan. Permasalahan tersebut seakan-akan menjadi suatu fenomena gunung es, yang mana apa yang terlihat merupakan hanya sebagian kecilnya saja, dibalik itu terdapat akar permasalahan yang lebih banyak lagi. Tenaga pendidik sendiri menjadi salah satu komponen penting dalam pendidikan karena merupakan ujung tombak yang berperan langsung dalam kemajuan pendidikan peserta didik dan dasar dari keberhasilan kurikulum itu sendiri.

Kata kunci: selektivitas tenaga pendidik,  kompetensi tenaga pendidik, kurikulum efektif.

Sumber prinsip pengembangan kurikulum dari berbagai literatur menyatakan bahwa setidaknya ada empat sumber prinsip, yaitu : data empiris (empirical data), data eksperimen (experiment data), cerita/legenda yang hidup di masyarakat (folklore of curriculum), dan akal sehat (common sense) (MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, 2009 : 61). Berdasarkan data statistik, salah satu permasalahan yang dihadapi pendidikan di Indonesia adalah persebaran yang kurang merata di seluruh wilayah Indonesia. Persebaran yang terjadi saat ini, tercatat di tahun 2009 menurut ditjen PMPTK berdasar persebaran data per kabupaten/kota,  jumlah guru terpadat, baik PNS maupun non-PNS-sudah pasti-pada kota/kabupaten yang termasuk metropolitan, antara lain:

Kota/kab.

Jakarta Timur

Kota Surabaya

Kota Medan

Kota Bandung

PNS

13.870

11.487

10.541

13.953

Non PNS

16.460

17.793

16.268

12.042

Jumlah

30.330

29.280

26.809

25.995

Tabel 1 Jumlah PNS di kab./kota metropolitan1

Kabupaten/kota yang jumlah guru minim antara lain:

Kota/kab

Kota Subulussalam (NAD)

Kota Bolaang Mongondow Selatan (Sulut)

Kota Bolaang Mongondow Timur (Sulut)

Kab. Memberamo Tengah (Papua)

Kab. Kep. Anambas (Kepri)

PNS

7

12

39

55

77

NonPNS

10

9

24

37

101

Jumlah

17

21

63

92

178

Tabel 2 Jumlah PNS di kota/kab. Terpencil2

Dengan keadaan seperti ini, sangat memungkinkan terjadinya perekrutan guru dengan selektivitas yang rendah pada daerah terpencil dan pengangkatan yang tidak sehat untuk menjadi guru di daerah metropolitan karena kecenderungan status sosial dan UMR yang berbeda. Dengan demikian peserta didik sebagai objek dan unsur terpenting dari pendidikan sendiri tidak mendapatkan proses pembelajaran yang efektif dikarenakan kompetensi guru yang masih kurang. Walaupun demikian, sebenarnya hal tersebut masih bisa diatasi dengan diadakannya program penyetaraan kompetensi guru oleh pemerintah yang bisa dilakukan pada skala sekolah dengan dikoordinasi oleh kepala sekolah yang didalamnya termuat suatu pengawasan dan penilaian jangka panjang dengan parameter-parameter tertentu dan reward juga sanksi bagi guru-guru yang belum mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan. Hal tersebut direalisasikan dengan adanya Undang-undang No. 19 tahun 2005 tentang SNP, namun tetap pada pelaksanaannya penulis menilai bahwa berbagai standar yang ditetapkan pada Undang-Undang tersebut seakan hanya menjadi formalitas semata dalam melangsungkan pendidikan.

Mutu Pendidikan Indonesia

1,2Data Jumlah PNS Ditjen PMPTK

Selain permasalahan penyebaran guru yang tidak merata, masih rendahnya mutu pendidikan di Indonesia dapat dilihat dari data Balitbang (2003) bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP), dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP). Yusuf Kalla  pernah mengatakan bahwa kualitas pendidikan Indonesia saat ini lebih buruk di banding 30-40 tahun yang lalu, bahkan menurut laporan hasil survey The Political and Economic Risk Consultancy (PERC) kualitas pendidikan Indonesia berada pada peringkat 16 di tingkat Asia dan berada di urutan 160 untuk tingkat dunia4. Namun, walaupun didera serangkaian prestasi buruk, masih ada kabar baik yang menjadi angin segar untuk para pelaku pendidikan di Indonesia, yaitu bahwa para anak bangsa ternyata cukup berprestasi di ajang olimpiade MIPA tingkat internasional, dan hampir setiap tahun para siswa kita yang mengikuti olimpiade matematika, Fisika, Kimia dan Biologi memperoleh medali emas.  Mereka mengalahkan para siswa dari negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, Belanda, Australia. Hal tersebut mengindikasikan bahwa sebenarnya putra-putri bangsa Indonesia memiliki potensi yang luar biasa, namun ironisnya sekolah yang sejatinya adalah tempat untuk mengembangkan potensi dan memperdalam ilmu pengetahuan, malah tidak cukup mampu untuk menjalankan fungsinya tersebut. Sekali lagi, penulis berasumsi bahwa peran dan kompetensi pendidiklah yang menjadi salah satu faktor mengapa mutu pendidikan Indonesia masih rendah.

Tenaga pendidik harusnya menjadi suatu aset yang harus dijaga benar-benar karena merekalah sesungguhnya yang menjadi ujung tombak pendidikan. Berbagai usaha pemerintah memang telah dilakukan, seperti lahirnya Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pada dasarnya merupakan kebijakan pemerintah yang didalamnya memuat usaha pemerintah untuk menata dan memperbaiki mutu guru di Indonesia. Namun seharusnya fungsi pengawasan juga harus dilakukan secara tegas dan terealisasi dengan baik, dibuktikan salah satunya selain dengan pencapaian nilai nasional siswa yang melebihi standar juga diimbangi dengan diraihnya prestasi non-akademik baik  nasional dan internasional.

Kurikulum 2013 vs Kompetensi Guru

3Istamar Syamsuri, Peningkatan Kompetensi Guru, 3

Banyak pro kontra tentang adanya isu pemberlakuan kurikulum 2013, penulis menilai bahwa sebagian yang pro menganggap kurikulum 2013 adalah kurikulum yang baik dari segi kontennya, yakni salah satunya bahwa kurikulum 2013 dinilai dari segi penguasaan materi yang nantinya akan dikuasai oleh siswa dikarenakan kurikulum 2013 berencana untuk mengintegrasikan beberapa mata pelajaran ke dalam palajaran lainnya, namun kalangan kontra lebih menyoroti pada teknis pelaksanaannya dan kesiapannya ketika kurikulum ini diimplementasikan, terutama masalah bahan ajar dan kompetensi guru yang harus di atas rata-rata untuk mampu menguasai materi dan mengajarkannya. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang baik dari segi konten karena dapat dikatakan bahwa kurikulum ini memiliki karakteristik yang mirip dengan kurikulum KBK yang lalu, sehingga dapat dikatakan bahwa bagian-bagian yang rancu pada kurikulum KBK telah di “tambal” pada kurikulum 2013 , dari asumsi tersebut kemungkinannya bisa saja konten dari kurikulum tersebut memang sudah matang. Namun, seperti yang telah disebutkan bahwa kekurangan dari kurikulum ini adalah pada implementasinya yang terkesan tergesa-gesa, terutama pada kesiapan tenaga pendidik dan ketersediaan bahan ajarnya yang keduanya merupakan hal yang fatal jika memang tidak dipersiapkan benar-benar. Berkenaan dengan kompetensi tenaga pendidik, pada kurikulum 2013 para tenaga pendidik dituntut untuk bisa menguasai berbagai materi dengan baik, berkenaan dengan akan diintegrasikannya beberapa mata pelajaran seperti pengintegrasian pelajaran IPA pada semua mata pelajaran di jenjang SD, pengintegrasian mata pelajaran TIK di seluruh mata pelajaran, juga pengembangan diri yang terintegrasi di kegiatan ekstrakulikuler di jenjang SMP, berakibat pada dituntutnya penguasaan materi yang luas cakupannya oleh guru. Selain itu pembentukan karakter siswa dilakukan tidak dengan pe-

4Data Jumlah PNS Ditjen PMPTK

Tabel 3 Elemen Perubahan Kurikulum 20134

nyampaian secara verbal, melainkan secara langsung dicontohkan melalui keteladanan bersikap seorang guru. Hal tersebut dapat menyebabkan masalah baru jika penguasaan guru terhadap materi terbatas hanya pada bidangnya saja, terlebih lagi jika waktu yang diberikan sangat singkat. Selain itu kekurangan dari kurikulum berbasis karakter adalah penilaiannya sendiri yang sulit diukur, sejauh mana siswa telah berkarakter sangat sulit diukur dan ditentukan parameternya.

Selektivitas dan Optimalisasi Kompetensi

Salah satu satu solusi yang dapat dilakukan oleh pengambil kebijakan adalah meningkatkan selektivitas pengangkatan guru di sekolah, contohnya dengan menambah mekanisme pengangkatan yang bisa melibatkan interview yang mendalam juga beberapa tes potensi akadamik dan psikologi dengan tingkat relatif kesulitan yang lebih tinggi. Selain itu optimalisasi kompetensi tenaga pendidik dapat dilakukan dengan cara melakukan pengawasan berskala panjang dan tegas dengan menekankan pada upaya pembelajaran efektif yang ditandai dengan meningkatnya atensi dan minat siswa, pengawasan tersebut dilakukan untuk bisa “memaksa” tenaga pendidik mengoptimalkan perannya sehingga jam tatap muka tenaga pendidik dan peserta didik bisa optimal, dengan demikian kesempatan siswa untuk bisa lebih memahami materi dan bertanya bisa lebih banyak pula. Lebih jauh lagi dengan meningkatnya kompetensi guru, pencapaian keberhasilan belajar siswa pun akan lebih besar kemungkinannya, ditambah lagi dengan sistem administrasi yang sehat dapat berakibat pada pelaksanaan kurikulum yang efektif.

Referensi

Faiq, Muhamad. (2013). Fakta-fakta Seputar Kurikulum 2013. Online [Tersedia : http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2013/03/fakta-fakta-seputar-kurikulum-2013.html (3 April 2013)]

Ferril. (2013). Kurikulum 2013, Antara Fakta dan Opini. Online [Tersedia : http://berkarya.um.ac.id/2013/03/25/kurikulum-2013-antara-fakta-dan-opini/ (3 April 2013)]

Hidayat, Sholeh. (2013). Kesiapan Guru Menyongsong Kurikulum 2013. Online [Tersedia : http://www.untirta.ac.id/berita-501-artikel–kesiapan-guru-menyonsong-kurikulum-2013.html (3 April 2013)]

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. (2012). Bahan Uji Publik Kurikulum 2013. Jakarta: Kemendikbud.

Kusuma, Farid. (2013). Tiga Syarat Pelaksanaan Kurikulum 2013 Versi Komisi X DPR. Online [Tersedia : http://www.jurnalparlemen.com/view/2139/tiga-syarat-pelaksanaan-kurikulum-2013-versi-komisi-x.html (3 April 2013)]

Samsul. (2013). Seminar Nasional IKA UNY : Menyongsong Implementasi Kurikulum 2013. Online [Tersedia : http://pps.uny.ac.id/berita/seminar-nasional-ika-uny-menyongsong-implementasi-kurikulum-2013.html (3 April 2013)]

Syamsuri, Istamar. (2010). Peningkatan Kompetensi Guru. Malang: Jurusan Biologi FMIPA UNM (Makalah)

Tim MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung : Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan

Konsep Dasar Pembelajaran

Posted on

Pembelajaran merupakan istilah yang bisa dibilang sangat umum di dunia pendidikan, karena pembelajaran sendiri merupakan salah satu core dari pendidikan dimana ia turut berperan aktif dalam membentuk pendidikan yang baik dan sesuai dengan suatu kelompok masyarakat tertentu. Saat kita membahas pembelajaran, maka kita juga harus mengikutsertakan proses belajar mengajar karena hal tersebut merupakan rangka dari pembelajaran. Bagaimana tidak, pembelajaran merujuk pada suatu istilah yang memiliki artian yang sangat luas, dapat diartikan bahwa pembelajaran adalah suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang guru atau pendidik untuk membelajarkan siswa yang belajar. Dari artian tersebut terlihat bahwa terdapat beberapa komponen penting, yakni guru sebagai subjek yang mengatur, merencanakan dan menyusun strategi agar siswa yang belajar yang dijadikan sebagai objek pembelajaran dapat dibelajarkan.  Membelajarkan disini memiliki artian yang dalam, yakni capaian yang ingin diraih adalah menghasilkan siswa yang perilakunya berubah dari segi kognitif, afektif dan psikomotorik ke arah yang lebih baik lagi melalui proses belajar yang efektif dan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Peran guru sendiri sebagai subjek pembelajaran tentunya memiliki pengaruh yang besar terhadap keberhasilan pembelajaran, oleh karena itu seorang guru dituntut untuk bisa menjadi acuan yang baik dan memiliki kompetensi yang mumpuni agar apa-apa yang mereka lakukan bisa memberi hasil yang baik. Pada kenyataannya, masih banyak guru yang kurang kompeten dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, terbukti dengan output yang belum memenuhi kriteria standar sebagaimana tercantum dalam UU sisdiknas. Terlebih lagi maraknya aksi tawuran, seks di bawah umur, narkoba dsb merupakan salah satu indikator nyata yang bisa diamati oleh masyarakat yang memberikan pengertian tersirat bahwa pendidikan di sekolah kurang menekankan aspek afektif sehingga banyak kelakuan menyimpang yang dihasilkan sebagai akibat dari kurangnya pengajaran afektif terhadap siswa.

Menurut Adams & Dickey (dalam Oemar Hamalik, 2005), peran guru sesungguhnya sangat luas, meliputi:

  1. Guru sebagai pengajar
  2. Guru sebagai pembimbing
  3. Guru sebagai ilmuwan
  4. Guru sebagai pribadi

Seiring dengan berkembangnya zaman, peran guru sebagai pengajar dan sumber informasi telah mengalami pergeseran, di era sebelum ramainya internet dan media elektronik lain, guru memiliki peran dominan sebagai sumber informasi selain buku-buku sumber, sehingga perhatian siswa untuk mencari pengetahuan lebih terpusat kepada guru. Implikasinya, siswa dan guru menjadi memiliki waktu bersama yang lebih banyak dan tentu saja guru bisa memaksimalkan peranannya untuk membimbing siswa yang keadaan psikologinya masih rentan. Namun, perkembangan teknologi menjadikan banyaknya akses terhadap berbagai pengetahuan secara lebih mudah dan lebih efisien. Siswa tidak perlu datang ke perpustakaan untuk mencari sumber bacaan atau referensi, melainkan mereka dapat mengaksesnya lewat internet. Dilihat dari berbagai dimensi, kemudahan dan kebebasan akses terhadap pengetahuan ini memiliki berbagai sisi positif dan negatif, positifnya siswa bisa lebih cepat untuk mengakses pengetahuan yang mereka butuhkan dan juga pengetahuan yang mereka peroleh cakupannya bisa lebih luas lagi karena beragamnya konten pengetahuan itu sendiri di internet, negatifnya tentu selain validitas dari informasi di internet yang masih perlu ditanyakan juga peranan guru sebagai sumber informasi mulai tergeser yang menyebabkan semakin sedikitnya waktu tatap muka antar guru dan siswa sehingga peranan guru sebagai pembimbingpu menjadi semakin sedikit. Oleh karena itu diperlukan tindak lanjut yang merupakan jalan tengah untuk mengatasi permasalahan ini, entah dilakukan pembatasan akses ataupun mengoptimalkan peran guru dengan menambah jam belajar dan lebih selektif dalam pengangkatan guru.

 Pada hakikatnaya, konsep pembelajaran memiliki beberapa landasan, yaitu:

  1. Landasan Filsafat
  2. Landasan Psikologi
  3. Landasan Sosiologi
  4. Landasan Komunikasi
  5. Landasan Teknologi

 

Setiap landasan memiliki penekanan pada aspek tertentu mengapa pembelajaran menjadi penting untuk dibahas, diantaranya pada landasan filsafat ditekankan bahwa belajar itu penting karena dengan belajar, manusia dapat mengetahui kebenaran di semesta ini. Pada landasan psikologi memberikan pijakan agar manusia bisa belajar memahami perilakunya sendiri secara utuh sehingga bisa mengoptimalkan kemampuannya lebih baik lagi. Pada landasan sosiologi diberikan pengertian bahwa manusia adalah makhluk individu dan sosial sehingga dengan demikian manusia butuh belajar untuk bisa bersosialisasi dan mengerti akan hubungan sesamanya, hal tersebut berhubungan dengan landasan komunikasi juga karena pada proses pembelajaran akan mengahasilkan keadaan dimana pendidik dan peserta didik berinteraksi, sehingga diperlukan kemampuan berkomunikasi yang baik agar transfer ilmu pengetahuan bisa berlangsung efektif. Terakhir, landasan teknologi berkaitan dengan penggunaan media, yakni bagaimana agar suatu pembelajaran bisa berlangsung dengan menyenangkan dan menarik interest siswa sehingga pembelajaran bisa berlangsung efektif.

Hi.Story of My Life

Bahagia itu sederhana

Alyyanet's Blog

Only Read Unique Story

agamajinasi

mencoba terbang meski terikat

poetryblogofmine

A topnotch WordPress.com site

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

ISLAND IN THE SUN!

survival and catching dreams!

Alfira Fitrananda

to infinity and beyond

The notes of life :)

I have an idea about what I'm doing!

Viracanya's e-diary

Bontang. Groningen. Bandung. Jakarta. Den Haag.

KutuBacaBuku

aku adalah seekor kutu tanpa kacamata

ilma ilmi apriliani

The Twins Blog

Readers Cafe

Culture, Life, Languages, Travel and much more!

a creation by a jundullah

Ilmu yang Bermanfaat, Salah Satu Amal yang Tidak akan Pernah Terputus