RSS Feed

My First Official Journal :)

Posted on

Telaah Permasalahan Kompetensi Tenaga Pendidik sebagai Dasar Pertimbangan Pengembangan Kurikulum Efektif

Muhamad Imam Mutaqin

Jurusan Pendidikan Kimia, Universitas Pendidikan Indonesia, Setia Budi Bandung
e-mail : imamv4.01@gmail.com

Abstrak. Tingkat selektivitas yang relatif rendah pada proses pemilihan tenaga pendidik merupakan salah satu kesalahan fatal yang menjadi mata rantai kesalahan yang kurang diperhatikan dalam pengembangan kurikulum di Indonesia yang dinilai masih rendah mutu pendidikannya. Selain itu, proses pengawasan terhadap kinerja tenaga pendidik di lapangan pun dinilai masih belum optimal, sehingga peran dan fungsi pengawasan itu sendiri pun tidak berjalan semestinya. Akibatnya, proses pembelajaran menjadi tidak efektif, peserta didik pun terhambat untuk mencapai standar kompetensi yang diinginkan. Permasalahan tersebut seakan-akan menjadi suatu fenomena gunung es, yang mana apa yang terlihat merupakan hanya sebagian kecilnya saja, dibalik itu terdapat akar permasalahan yang lebih banyak lagi. Tenaga pendidik sendiri menjadi salah satu komponen penting dalam pendidikan karena merupakan ujung tombak yang berperan langsung dalam kemajuan pendidikan peserta didik dan dasar dari keberhasilan kurikulum itu sendiri.

Kata kunci: selektivitas tenaga pendidik,  kompetensi tenaga pendidik, kurikulum efektif.

Sumber prinsip pengembangan kurikulum dari berbagai literatur menyatakan bahwa setidaknya ada empat sumber prinsip, yaitu : data empiris (empirical data), data eksperimen (experiment data), cerita/legenda yang hidup di masyarakat (folklore of curriculum), dan akal sehat (common sense) (MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, 2009 : 61). Berdasarkan data statistik, salah satu permasalahan yang dihadapi pendidikan di Indonesia adalah persebaran yang kurang merata di seluruh wilayah Indonesia. Persebaran yang terjadi saat ini, tercatat di tahun 2009 menurut ditjen PMPTK berdasar persebaran data per kabupaten/kota,  jumlah guru terpadat, baik PNS maupun non-PNS-sudah pasti-pada kota/kabupaten yang termasuk metropolitan, antara lain:

Kota/kab.

Jakarta Timur

Kota Surabaya

Kota Medan

Kota Bandung

PNS

13.870

11.487

10.541

13.953

Non PNS

16.460

17.793

16.268

12.042

Jumlah

30.330

29.280

26.809

25.995

Tabel 1 Jumlah PNS di kab./kota metropolitan1

Kabupaten/kota yang jumlah guru minim antara lain:

Kota/kab

Kota Subulussalam (NAD)

Kota Bolaang Mongondow Selatan (Sulut)

Kota Bolaang Mongondow Timur (Sulut)

Kab. Memberamo Tengah (Papua)

Kab. Kep. Anambas (Kepri)

PNS

7

12

39

55

77

NonPNS

10

9

24

37

101

Jumlah

17

21

63

92

178

Tabel 2 Jumlah PNS di kota/kab. Terpencil2

Dengan keadaan seperti ini, sangat memungkinkan terjadinya perekrutan guru dengan selektivitas yang rendah pada daerah terpencil dan pengangkatan yang tidak sehat untuk menjadi guru di daerah metropolitan karena kecenderungan status sosial dan UMR yang berbeda. Dengan demikian peserta didik sebagai objek dan unsur terpenting dari pendidikan sendiri tidak mendapatkan proses pembelajaran yang efektif dikarenakan kompetensi guru yang masih kurang. Walaupun demikian, sebenarnya hal tersebut masih bisa diatasi dengan diadakannya program penyetaraan kompetensi guru oleh pemerintah yang bisa dilakukan pada skala sekolah dengan dikoordinasi oleh kepala sekolah yang didalamnya termuat suatu pengawasan dan penilaian jangka panjang dengan parameter-parameter tertentu dan reward juga sanksi bagi guru-guru yang belum mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan. Hal tersebut direalisasikan dengan adanya Undang-undang No. 19 tahun 2005 tentang SNP, namun tetap pada pelaksanaannya penulis menilai bahwa berbagai standar yang ditetapkan pada Undang-Undang tersebut seakan hanya menjadi formalitas semata dalam melangsungkan pendidikan.

Mutu Pendidikan Indonesia

1,2Data Jumlah PNS Ditjen PMPTK

Selain permasalahan penyebaran guru yang tidak merata, masih rendahnya mutu pendidikan di Indonesia dapat dilihat dari data Balitbang (2003) bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP), dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP). Yusuf Kalla  pernah mengatakan bahwa kualitas pendidikan Indonesia saat ini lebih buruk di banding 30-40 tahun yang lalu, bahkan menurut laporan hasil survey The Political and Economic Risk Consultancy (PERC) kualitas pendidikan Indonesia berada pada peringkat 16 di tingkat Asia dan berada di urutan 160 untuk tingkat dunia4. Namun, walaupun didera serangkaian prestasi buruk, masih ada kabar baik yang menjadi angin segar untuk para pelaku pendidikan di Indonesia, yaitu bahwa para anak bangsa ternyata cukup berprestasi di ajang olimpiade MIPA tingkat internasional, dan hampir setiap tahun para siswa kita yang mengikuti olimpiade matematika, Fisika, Kimia dan Biologi memperoleh medali emas.  Mereka mengalahkan para siswa dari negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, Belanda, Australia. Hal tersebut mengindikasikan bahwa sebenarnya putra-putri bangsa Indonesia memiliki potensi yang luar biasa, namun ironisnya sekolah yang sejatinya adalah tempat untuk mengembangkan potensi dan memperdalam ilmu pengetahuan, malah tidak cukup mampu untuk menjalankan fungsinya tersebut. Sekali lagi, penulis berasumsi bahwa peran dan kompetensi pendidiklah yang menjadi salah satu faktor mengapa mutu pendidikan Indonesia masih rendah.

Tenaga pendidik harusnya menjadi suatu aset yang harus dijaga benar-benar karena merekalah sesungguhnya yang menjadi ujung tombak pendidikan. Berbagai usaha pemerintah memang telah dilakukan, seperti lahirnya Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pada dasarnya merupakan kebijakan pemerintah yang didalamnya memuat usaha pemerintah untuk menata dan memperbaiki mutu guru di Indonesia. Namun seharusnya fungsi pengawasan juga harus dilakukan secara tegas dan terealisasi dengan baik, dibuktikan salah satunya selain dengan pencapaian nilai nasional siswa yang melebihi standar juga diimbangi dengan diraihnya prestasi non-akademik baik  nasional dan internasional.

Kurikulum 2013 vs Kompetensi Guru

3Istamar Syamsuri, Peningkatan Kompetensi Guru, 3

Banyak pro kontra tentang adanya isu pemberlakuan kurikulum 2013, penulis menilai bahwa sebagian yang pro menganggap kurikulum 2013 adalah kurikulum yang baik dari segi kontennya, yakni salah satunya bahwa kurikulum 2013 dinilai dari segi penguasaan materi yang nantinya akan dikuasai oleh siswa dikarenakan kurikulum 2013 berencana untuk mengintegrasikan beberapa mata pelajaran ke dalam palajaran lainnya, namun kalangan kontra lebih menyoroti pada teknis pelaksanaannya dan kesiapannya ketika kurikulum ini diimplementasikan, terutama masalah bahan ajar dan kompetensi guru yang harus di atas rata-rata untuk mampu menguasai materi dan mengajarkannya. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang baik dari segi konten karena dapat dikatakan bahwa kurikulum ini memiliki karakteristik yang mirip dengan kurikulum KBK yang lalu, sehingga dapat dikatakan bahwa bagian-bagian yang rancu pada kurikulum KBK telah di “tambal” pada kurikulum 2013 , dari asumsi tersebut kemungkinannya bisa saja konten dari kurikulum tersebut memang sudah matang. Namun, seperti yang telah disebutkan bahwa kekurangan dari kurikulum ini adalah pada implementasinya yang terkesan tergesa-gesa, terutama pada kesiapan tenaga pendidik dan ketersediaan bahan ajarnya yang keduanya merupakan hal yang fatal jika memang tidak dipersiapkan benar-benar. Berkenaan dengan kompetensi tenaga pendidik, pada kurikulum 2013 para tenaga pendidik dituntut untuk bisa menguasai berbagai materi dengan baik, berkenaan dengan akan diintegrasikannya beberapa mata pelajaran seperti pengintegrasian pelajaran IPA pada semua mata pelajaran di jenjang SD, pengintegrasian mata pelajaran TIK di seluruh mata pelajaran, juga pengembangan diri yang terintegrasi di kegiatan ekstrakulikuler di jenjang SMP, berakibat pada dituntutnya penguasaan materi yang luas cakupannya oleh guru. Selain itu pembentukan karakter siswa dilakukan tidak dengan pe-

4Data Jumlah PNS Ditjen PMPTK

Tabel 3 Elemen Perubahan Kurikulum 20134

nyampaian secara verbal, melainkan secara langsung dicontohkan melalui keteladanan bersikap seorang guru. Hal tersebut dapat menyebabkan masalah baru jika penguasaan guru terhadap materi terbatas hanya pada bidangnya saja, terlebih lagi jika waktu yang diberikan sangat singkat. Selain itu kekurangan dari kurikulum berbasis karakter adalah penilaiannya sendiri yang sulit diukur, sejauh mana siswa telah berkarakter sangat sulit diukur dan ditentukan parameternya.

Selektivitas dan Optimalisasi Kompetensi

Salah satu satu solusi yang dapat dilakukan oleh pengambil kebijakan adalah meningkatkan selektivitas pengangkatan guru di sekolah, contohnya dengan menambah mekanisme pengangkatan yang bisa melibatkan interview yang mendalam juga beberapa tes potensi akadamik dan psikologi dengan tingkat relatif kesulitan yang lebih tinggi. Selain itu optimalisasi kompetensi tenaga pendidik dapat dilakukan dengan cara melakukan pengawasan berskala panjang dan tegas dengan menekankan pada upaya pembelajaran efektif yang ditandai dengan meningkatnya atensi dan minat siswa, pengawasan tersebut dilakukan untuk bisa “memaksa” tenaga pendidik mengoptimalkan perannya sehingga jam tatap muka tenaga pendidik dan peserta didik bisa optimal, dengan demikian kesempatan siswa untuk bisa lebih memahami materi dan bertanya bisa lebih banyak pula. Lebih jauh lagi dengan meningkatnya kompetensi guru, pencapaian keberhasilan belajar siswa pun akan lebih besar kemungkinannya, ditambah lagi dengan sistem administrasi yang sehat dapat berakibat pada pelaksanaan kurikulum yang efektif.

Referensi

Faiq, Muhamad. (2013). Fakta-fakta Seputar Kurikulum 2013. Online [Tersedia : http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2013/03/fakta-fakta-seputar-kurikulum-2013.html (3 April 2013)]

Ferril. (2013). Kurikulum 2013, Antara Fakta dan Opini. Online [Tersedia : http://berkarya.um.ac.id/2013/03/25/kurikulum-2013-antara-fakta-dan-opini/ (3 April 2013)]

Hidayat, Sholeh. (2013). Kesiapan Guru Menyongsong Kurikulum 2013. Online [Tersedia : http://www.untirta.ac.id/berita-501-artikel–kesiapan-guru-menyonsong-kurikulum-2013.html (3 April 2013)]

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. (2012). Bahan Uji Publik Kurikulum 2013. Jakarta: Kemendikbud.

Kusuma, Farid. (2013). Tiga Syarat Pelaksanaan Kurikulum 2013 Versi Komisi X DPR. Online [Tersedia : http://www.jurnalparlemen.com/view/2139/tiga-syarat-pelaksanaan-kurikulum-2013-versi-komisi-x.html (3 April 2013)]

Samsul. (2013). Seminar Nasional IKA UNY : Menyongsong Implementasi Kurikulum 2013. Online [Tersedia : http://pps.uny.ac.id/berita/seminar-nasional-ika-uny-menyongsong-implementasi-kurikulum-2013.html (3 April 2013)]

Syamsuri, Istamar. (2010). Peningkatan Kompetensi Guru. Malang: Jurusan Biologi FMIPA UNM (Makalah)

Tim MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung : Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan

About M.I.M

Man... he's wanna be the #1.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hi.Story of My Life

Bahagia itu sederhana

Alyyanet's Blog

Only Read Unique Story

agamajinasi

mencoba terbang meski terikat

poetryblogofmine

A topnotch WordPress.com site

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

ISLAND IN THE SUN!

survival and catching dreams!

Alfira Fitrananda

to infinity and beyond

The notes of life :)

I have an idea about what I'm doing!

Viracanya's e-diary

Bontang. Groningen. Bandung. Jakarta. Den Haag.

KutuBacaBuku

aku adalah seekor kutu tanpa kacamata

ilma ilmi apriliani

The Twins Blog

Readers Cafe

Culture, Life, Languages, Travel and much more!

a creation by a jundullah

Ilmu yang Bermanfaat, Salah Satu Amal yang Tidak akan Pernah Terputus

%d bloggers like this: