RSS Feed

Tag Archives: Kurikulum dan Pembelajaran

Menengok Sejarah Perkembangan Kurikulum Indonesia

Posted on

Jika kita tengok sejarah pergantian kurikulum di Indonesia, maka di tahun ke-68 sejak Indonesia merdeka telah mengalami 9 kali pergantian kurikulum. Perkembangan yang dimaksud menurut penulis merupakan progress report sejauh mana kurikulum itu sendiri dijalankan dari masa ke masa. Penulis meninjau dari segi pergantian waktu sendiri memang dari awal memiliki kecenderungan waktu pelaksanaan yang berperiodik sampai akhirnya tahun 1997 mulai terjadi pergantian yang menurut penulis terindikasikan adanya perencanaan yang kurang matang jika menyoroti waktu pergantian yang relatif singkat. Terutama pada periode kurikulum KBK yang hanya terlaksana selama dua tahun yang kemudian digantikan oleh kurikulum KTSP. Memang benar bahwa tidak ada standar internasional yang menyatakan jangka waktu minimum berlakunya kurikulum di suatu negara, namun tidak bisa juga kita katakan bahwa hal tersebut merupakan hal yang wajar.

Penulis berpendapat bahwa justru dengan adanya pergantian yang terlalu singkat menyebabkan adanya tanggapan masyarakat yang kurang baik terhadap pemerintah, juga dari segi pembiayaan, pembaruan bahan ajar dan kompetensi tenaga pendidik juga terkesan terlalu dipaksa untuk memenuhi standar jika kurikulum diganti begitu saja. Hal tersebut dapat dimengerti karena kompetensi yang dituntut dan bahan ajar tentu akan berbeda dikarenakan tujuan dari kurikulum yang juga berbeda, yang akhirnya berujung pada bengkaknya pembiayaan.

Kurikulum sangat berkaitan erat dengan mutu pendidikan Indonesia, karena kurikulum sendiri merupakan rencana belajar yang menjadi kompas pendidikan di Indonesia, sehingga ketika mutu pendidikan itu rendah, maka salah satu faktor penting yang berpengaruh adalah kurikulum yang sedang dilaksanakan.  Salah satu indikator yang dapat dilihat adalah dari data survei yang diselenggarakan oleh lembaga/organisasi baik nasional ataupun internasional, berdasarkan survei dari World Competitive Year Book pada periode 1997-2007 menunjukkan bahwa dari 47 negara yang disurvai, pada tahun 1997 Indonesia berada pada urutan 39, pada tahun 1999, berada pada urutan 46. Tahun 2002, dari 49 negara yang disurvai, Indonesia berada pada urutan 47, dan pada 2007 dari 55 negara yang disurvai, Indonesia menempati posisi ke-53[1], selain itu mari kita tengok hasil survei yang dikemukakan oleh Balitbang (2003) bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP), dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP)[2]. Data-data survei tersebut secara kasar mengindikasikan bahwa mutu pendidikan masih rendah yang berhubungan dengan perkembangan kurikulum ke arah lebih baik yang belum optimal. Jika mempertimbangkan aspek kecepatan progressnya, yang mana mungkin saja progress perkembangan kurikulum di Indonesia masih kalah cepat dengan negara-negara lain maka syah-syah saja, namun demikian hal tersbebut masih mengindikasikan kekurangan dari kurikulum Indonesia karena belum mampu bersaing secara global. Bukan berarti penulis bermaksud berburuk sangka, hanya mencoba realistis sehingga penulis berharap banyak pihak yang tidak hanya diam, melainkan ikut serta memajukan pendidikan Indonesia. Semoga tulisan penulis dapat mengilhami, atau setidaknya dapat berguna menjadi bacaan ringan pembaca.

Footnote
[1][2]Syamsuri, Istamar. (2010). Peningkatan Kompetensi Guru. Bogor, IPB.

Model Pengembangan dan Organisasi Kurikulum

Posted on

Model dan Organisasian Pengembangan Kurikulum

Oleh Muhamad Imam Mutaqin (1100694)

Semakin cepatnya pentransferan informasi, semakin mudahnya pengaksesan ilmu pengetahuan dan juga semakin beragamnya pengetahuan itu sendiri merupakan sebagian kecil dampak dari pesatnya perkembangan teknologi. Seiring dengan itu, tingkat intelegensia manusia juga mengalami perkembangan yang bertahap. Ilmu pengetahuan yang makin terdiversifikasi di era sekarang ini merupakan bentuk manifestasi nyata dari perkembangan zaman dan teknologi yang  telah, sedang dan tentunya akan terus terjadi sepanjang manusia hidup di dunia. Kurikulum yang pada dasarnya dapat terlahir dikarenakan pemikiran manusia itu sendiri juga merupakan salah satu bagian kecil dari ilmu pengetahuan yang mana didalamnya terjadi berbagai perbaruan-perbaruan dan juga banyak sekali pendapat-pendapat, pemikiran-pemikiran terkait dengan cara agar kurikulum itu bisa dikembangkan secara baik dan efektif. Berbagai pemikiran-pemikiran mengenai cara suatu cara, suatu proses atau suatu prosedur tentang bagaimana seharusnya kurikulum itu dikembangkan agar bisa menciptakan kurikulum yang baik dapat kita sebut sebagai suatu model.

Dalam perkembangannya, model-model kurikulum sendiri terbagi menjadi jenis yang lebih beragam, sebagian diantaranya yaitu model Ralph Tyler, model administratif, model grass roots, model demonstrasi, model taba dan juga model beauchamp. Berikut ini akan dijelaskan secara umum mengenai model-model tersebut.

1. Model Ralph Tyler

Tyler mengungkapkan bahwa untuk mengembangkan suatu kurikulum, perlu menempatkan empat pertanyaan berikut :

  1. What educational purpose should the school seek to attain? (objectives
  2. What educational experiences are likely to aatain these objectives? (instructional strategic and content)
  3. How can these educational experiences be organized effectively? (organizing learning experiences)
  4. How can we determine whether these purposes are being attain? (identifikasi dan evaluasi)

2. Model Administratif

Menurut Sanjaya (2010:78) proses pengembangan kurikulum model administratif dilakukan dengan empat langkah, yaitu sebagai berikut.

a. Langkah pertama, dimulai dari pembentukan tim pengarah oleh pejabat pendidikan.

b. Langkah kedua, menyusun tim atau kelompok kerja untuk menjabarkan kebijakan atau rumusan-rumusan yang telah disusun oleh tim pengarah.

c. Langkah ketiga, apabila kurikulum telah selesai disusun, selanjutnya hasilnya diserahkan kepada tim perumus untuk dikaji dan diberi catatan-catatan atau direvisi.

d. Langkah keempat, para administrator selanjutnya memerintahkan kepada setiap sekolah untuk mengimplementasikan kurikulum yang telah tersusun itu.

3. Model Grass-Root

Model grass-Root ini didasarkan atas empat prinsip yang dikemukakan oleh Smith, Stanley, dan Shores dalam Arifin (2012:139), yaitu:

a) Kurikulum bertambah baik jika kemampuan profesional guru bertambah baik.

b) Kompetensi guru akan bertambah baik jika guru terlibat secara pribadi di dalam merevisi kurikulm.

c) Jika guru terlibat dalam merumuskan tujuan yang ingin dicapai, menyeleksi, mendefinisikan dan memecahkan masalah, mengevaluasi hasil, maka hasil pengembangan kurikulum akan lebih bermakna.

d) Hendaknya diantara guru-guru terjadi kontak langsung sehingga mereka dapat saling memahami dan mencapai suatu konsensus tentang prinsip-prinsip dasar, tujuan, dan rencana.

4. Model Beauchamp

Model ini dikemukakan oleh G.A. Beauchamp seorang ahli kurikulum. Beauchamp mengemukakan lima langkah proses pengembangan kurikulum seperti yang dikutip oleh Sanjaya (2010:91) sebagai berikut.

(1) Menetapkan wilayah atau arena yang akan dicakup oleh kurikulum tersebut.

(2) Menetapkan orang-orang yang akan terlibat dalam proses pengembangan kurikulum.

(3) Menetapkan prosedur yang akan ditempuh. Langkah ini berkenaan dengan prosedur yang harus ditempuh dalam merumuskan tujuan umum dan tujuan yang lebih khusus, memilih isi dan pengalaman belajar, serta kegiatan evaluasi, dan dalam menentukan keseluruhan desain kurikulum.

(4) Implementasi kurikulum.

(5) Melaksanakan evaluasi kurikulum yang menyangkut: evaluasi terhadapa pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru di sekolah, evaluasi terhadap desain kurikulum, evaluasi keberhasilan anak didik, dan evaluasi sitem kurikulum.

Organisasi Kurikulum: Tinjauan Singkat

S. Nasution (1989: 80) menyebutkan dilihat dari organisasi kurikulum terdapat tiga tipe atau bentuk kurikulum, yakni: (1) Separated Subject Curriculum; (2) Correlated Curriculum; (3) Integrated Curriculum. Sebenarnya pemisahan tersebut lebih bersifat teoritis, karena pada kenyataannya tidak ada kurikulum yang secara mutlak mendasarkan pada salah satu bentuk saja tanpa mengaitkannya dengan yang lain. Berikut uraian dari organisasi kurikulum:

a. Separated Subject Curriculum

Pada bentuk ini, bahan dikelompokkan pada mata pelajaran yang terpisah dan tidak mempunyai kaitan sama sekali. Sehingga banyak jenis mata pelajaran menjadi sempit ruang lingkupnya.

b. Correlated Curriculum

Correlated curriculum adalah bentuk kurikulum yang menunjukkan adanya suatu hubungan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, tetapi tetap memperhatikan karakteristik tiap mata pelajaran tersebut.

c. Integrated Curriculum

Dalam integrated curriculum mata pelajaran dipusatkan pada suatu masalah atau unit tertentu. Dengan adanya kebulatan bahan pelajaran diharapkan dapat terbentuk kebulatan pribadi peserta didik yang sesuai dengan lingkungan masyarakatnya.

Referensi :

  • Buku:

Tim Dosen Pengembang Kurikulum dan Pembelajaran. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: FIP.

  • Internet:

Ardiansyah, Asrori. (2013).  Organisasi Kurikulum. Online [Tersedia : http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/organisasi-kurikulum.html (7 Maret 2013)]

Ema. (2012).  Model-model Pengembangan Kurikulum. Online [Tersedia : http://emahannasijada.blogspot.com/2012/11/model-model-pengembangan-kurikulum.html (7 Maret 2013)]

Nef, Fendik. (2011).  Model-model Pengembangan Kurikulum. Online [Tersedia : http://www.imadiklus.com/2011/12/model-model-pengembangan-kurikulum.html  (7 Maret 2013)]

Evaluasi Kurikulum : Suatu Miskonsepsi Interpretasi

Posted on

Evaluasi dan Evaluasi Kurikulum : Suatu Miskonsepsi Interpretasi

Oleh Muhamad Imam Mutaqin

 © Copyright 2010 CorbisCorporation

Evaluasi merupakan kata yang bagi para siswa seringkali diindentikkan dengan nilai mata pelajaran, karena kurangnya pemahaman yang benar terhadap makna dari evaluasi sendiri. Terlebih lagi karena kesan yang dirasakan memang bukanlah kesan yang seharusnya dialami, melainkan mereka menerimanya sebagai suatu acuan keberhasilan diri yang mau tidak mau mereka harus berhasil dikarenakan hal tersebut akan memberikan status dan pandangan tertentu dari lingkungan sosial ataupun keluarganya yang baik atau tidaknya ditentukan dari bagus atau jeleknya pencapaian nilai siswa yang bersangkutan.

Evaluasi sendiri didefinisikan dari segi istilah menurut Edwind Wandt dan Gerald W. Brown (1977) sebagai Evaluation refer to the act or process to determining the value of something”.  Namun yang harus diperhatikan disini adalah kata “nilai” itu sendiri, yang mana tentu saja bagus atau tidaknya nilai dari sesuatu yang dievaluasi itu sangat ditentukan oleh penyusunan evaluasi oleh para evaluator, sehingga ketika terjadi hasil yang kurang memuaskan di dalam suatu evaluasi, yang sebenarnya perlu dibenahi adalah proses evaluasinya yang berujung pada bagaimana para evaluator menyusun evaluasinya sebaik mungkin, ditambah pembenahan metode yang dilakukan untuk melangsungkan pembelajaran yang efektif, bukan malah siswa yang bertindak sebagai objek yang disalahkan atas hasil evaluasi yang kurang memuaskan.

Dalam konteks kurikulum, evaluasi pengembangan kurikulum memiliki arti yang sangat luas dari sekedar evaluasi yang dilakukan dalam skala kelas yang mana tanggung jawab akan keberhasilan kurikulum inipun menjadi tidak hanya tanggung jawab para pengambil kebijakan kurikulum ataupun guru, melainkan siswa itu sendiri memiliki tanggung jawab. Dalam artian bahwa guru harus membimbing para siswa agar mereka memiliki kesadaran akan pentingnya evaluasi bagi proses pembelajaran yang baik, sehingga evaluasi tidak akan dipandang sebagai suatu beban yang bisa mengganggu keadaan psikologis mereka yang masih rentan karena terjadinya proses evaluasi diri yang dibimbing oleh guru.

Evaluasi pengembangan kurikulum merupakan akar dari pembenahan yang positif dalam rangka memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam suatu kurikulum. Berdasarkan hal tersebut, evaluasi pengembangan kurikulum menjadi suatu hal yang penting karena merupakan alat untuk meninjau sejauh mana keberhasilan suatu kurikulum yang diterapkan. Karena perlu diakui bahwa penyusunan kurikulum itu sangat krusial, dimana ia dapat menentukan baik atau tidaknya pendidikan di suatu negara. Dari pembahasan akan pentingnya evaluasi dalam rangka mengembangkan kurikulum, maka terlahirlah model-model evaluasi kurikulum yang mana penulis sendiri berpendapat bahwa yang paling fundamental adalah model evaluasi kurikulum CIPP (content, Input, Process and Product)  karena menurut penulis sendiri model evaluasi ini penulis pandang lebih luas namun tetap sederhana dan jelas aspek-aspek yang dievaluasinya, sehingga hasil evaluas secara keseluruhannya pun dapat memberikan gambaran yang lebih gamblang tentang suatu kurikulum yang sedang dievaluasi, namun tentunya penulis tidak menampik bahwa model tersebut akan lebih baik lagi jika diintegrasikan dengan model-model evaluasi kurikulum yang lainnya, seperti model provus yang jauh lebih spesifik dan model taksonomi yang lebih ditujukan untuk mengevaluasi pembelajaran

Dari pendapat tersebut, evaluasi dalam konteks pengembangan kurikulum jelas merupakan hal yang perlu mendapat perhatian yang lebih dikarenakan evaluasi sendiri berhubungan dengan nilai dari suatu kurikulum, memberikan deskripsi analisis mengenai kekurangan dan keberhasilan dari suatu kurikulum yang merupakan jalan untuk melakukan perbaikan untuk menyempurnakan kurikulum yang ada. Penanganan yang serius dari para evaluator dan koordinasinya dengan para praktisi pendidikan sampai ke peserta didik pun mutlak dibutuhkan karena evaluasi kurikulum sendiri merupakan hal yang sangat luas cakupannya sehingga banyak pihak yang terlibat yang harus memaknai akan pentingnya evaluasi kurikulum, sehingga evaluasi yang dilakukan bisa meningkatkan aspek validitas (kesahihan), reliabilitas (keterandalan), signifikansi (keterpercayaan), dan objektifitas yang berujung pada proses penyempurnaan kurikulum yang baik dan tujuan pendidikan sendiri bisa tercapai.

Referensi :

Buku:

Tim Dosen Pengembang Kurikulum dan Pembelajaran. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: FIP.

Internet:

Hasan, Said Hamid, Prof. Dr. (2010). Evaluasi Pengembangan KTSP Suatu Kajian Konseptual. Online [Tersedia : http://hipkin.or.id/evaluasi-pengembangan-ktsp-suatu-kajian-konseptual/ (3 Maret 2013)]

Toha, Muhamad. (2010). Model-model Monitoring dan Evaluasi Pengembangan Kurikulum. Online [Tersedia: http://tohacenter.blogspot.com/2010/10/model-model-monitoring-dan-evaluasi.html (3 Maret 2013)]

Yafrianti, Fitri. (2012). Evaluasi Pendidikan: Evaluasi Pengembangan Kurikulum. Online [Tersedia : http://sakura-ilmi.blogspot.com/2012/03/evaluasi-pendidikan-evaluasi.html  (3 Maret 2013)]

Prinsip-prinsip untuk Mengembangkan Kurikulum

Posted on

Butuh Prinsip untuk Mengembangkan Kurikulum

Ketika seseorang berpendapat, ia harus punya dasar prinsip yang menjadi penguat pendapat mereka, karena tanpa prinsip yang jelas maka apa yang akan ia katakan menjadi suatu opini semata yang keberadaannya mudah dipatahkan, mudah disanggah dengan argumen-argumen lain yang jauh lebih kuat. Jika kita berbicara tentang kurikulum, maka disitu kita akan bertemu dengan prinsip-prinsip yang menjadi dasar alasan, yang menjadi pijakan kurikulum untuk bisa bertahan, agar bisa sesuai dan bisa berkembang. Lalu sekarang yang menjadi pertanyaannya, apa saja kira-kira yang menjadi prinsip dari kurikulum itu sendiri agar bisa berkembang? Mari kita simak pemaparan berikut…

Menurut Prof.  Nana Syaodih Sukmadinata ( 2005: 150-155 ), terdapat beberapa hal yang dijadikan prinsip pengembangan kurikulum, yaitu:

1. Prinsip relevensi

Kurikulum harus memiliki relevansi keluar dan di dalam kurikulum itu sendiri. Dalam prinsip ini kurikulum harus sesuai dengan tujuan dan isi kurikulum itu sendiri. Sekolah dalam menyelenggarakan  kurikulum harus relevan dan konsisten disesuaikan dengan

2. Prinsip fleksibilitas

Kurikulum hendaknya memiliki sifat lentur atau fleksibel yaitu kurikulum itu disesuaikan dengan kondisi daerah , waktu, kemampuan dan latar belakang anak. Kurikulum dibuat disesuaikan dengan kebutuhan  masyarakat dalam daerah tersebut.

3. Prinsip kontinuitas

Perkembangan dan proses belajar anak berlangsung secara berkesinambungan artinya dalam pembelajaran itu terdapat proses yang terus menerus dan kurikulum juga harus mempunyai sifat berkesinambungan antara satu tingkat kelas dengan kelas yang lain.

4. Prinsip kepraktisan / efisiensi

Kurikulum juga harus memiliki sifat praktis artinya kurikulum tersebut mudah dilaksanakan dan mudah diterapkan dalam dunia pendidikan menjawab tantangan-tantangan yang ada dalam masyarakat, dapt diterpakan dengan media pembelajaran yang sederhana dan memerlukan biaya yang murah.

5. Prinsip efektifitas

Efektifitas berkenaan dengan keberhasilan pelaksanaan kurikulum baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Kurikulum merupakan penjabaran dari perencanaan pendidikan dari kebijakan-kebijakan pemerintah. Dalam pengembangannya, harus diperhatikan kaitan antara aspek utama kurikulum yaitu tujuan, isi, pengalaman belajar, serta penilaian dengan kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan.

Dalam kurikulum Indonesia saat ini, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Badan Standar Nasional Pendidikan sendiri menetapkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum dalam KTSP, yaitu:

  1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya
  2. Beragam dan terpadu
  3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
  4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan
  5. Menyeluruh dan berkesinambungan
  6. Belajar sepanjang hayat
  7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah

Jadi suatu kurikulum itu idealnya tidak lepas dari prinsip-prinsip tersebut, sehingga dalam pelaksanaannya bisa menjadi efektif  dan tujuan pendidikan bisa dicapai. Prinsip-prinsip tersebut kemudian diaplikasikan dan digunakan sesuai dengan latar belakang negara yang ditempati, sesuai dengan latar belakang budayanya agar kemudian kurikulum bisa menjadi suatu alat yang sesuai yang bisa memajukan pendidikan dan menjadikan orang-orang di dalamnya terpelajar, jikapun prinsip-prinsip tersebut belum bisa diaplikasikan secara baik maka diadakanlah berbagai evaluasi-evaluasi, memperbaiki kembali kesalahan-kesalahan agar kurikulum bisa berkembang dengan baik.

-. (2012). Prinsip Pengembangan Kurikulum. Online [Tersedia] : http://pmat.uad.ac.id/prinsip-pengembangan-kurikulum.html  [24 Februari 2013]

Hendrawati, Sri. (2012). Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum. Online [Tersedia] : http://srihendrawati.blogspot.com/2012/04/prinsip-prinsip-pengembangan-kurikulum.html [24 Februari 2013]

Kurikulum dan Komponen-komponennya

Posted on

Kurikulum dalam pendidikan dapat dikatakan bertindak sebagai alat pengatur, yakni alat yang secara umum berfungsi untuk mencapai tujuan pendidikan, yang bisa diturunkan lagi yaitu untuk menjaga pendidikan tetap pada jalurnya, mengembangkan pendidikan dan juga kurikulum itu sendiri, juga banyak lagi fungsi spesifik lainnya. Kurikulum itu sendiri harus bersifat jelas dan terintegrasi satu sama lain antara komponen-komponennya. Berbicara tentang komponen-komponen kurikulum, ada pendapat berbeda tentang jumlah dari komponen ini, Subandiyah (1993: 4-6) berpendapat bahwa komponen kurikulum itu terdiri dari lima komponen, yaitu : 

  1. Komponen tujuan;
  2. Komponen isi/materi;
  3. Komponen media (sarana dan prasarana);
  4. Komponen strategi dan;
  5. Komponen proses belajar mengajar.

Sementara Soemanto (1982) mengemukakan ada empat komponen kurikulum, yaitu:

  1. Objective (tujuan);
  2. Knowledges (isi atau materi);
  3. School learning experiences (interaksi belajar mengajar di sekolah) dan;
  4. Evaluation (penilaian).

Namun pada dasarnya pendapat-pendapat yang ada tersebut memiliki persamaan, yaitu :

  1. Tujuan
  2. Isi Kurikulum
  3. Metode atau Strategi Pencapaian Tujuan, dan
  4. Evaluasi

Terlepas dari pendapat tersebut, yang jelas suatu kurikulum itu pasti dan harus memiliki komponen tujuan, yakni yang berhubungan dengan hasil yang dicita-citakan, berhubungan dengan produk yang diharapkan. Oleh karena itu, tujuan pendidikan sendiri memiliki klasifikasi, dari yang sangat umum sampai yang bersifat khusus yaitu:

  1. Tujuan Pendidikan Nasional, merupakan tujuan akhir yang harus dicapai dari tiap-tiap penyelenggara pendidikan yang sifatnya umum. Biasanya dirumuskan dalam suatu UU.
  2. Tujuan Institusional, merupakan tujuan yang harus dicapai dari tiap lembaga pendidikan, merupakan kualifikasi yang harus dimiliki siswa setelah menempuh program di lembaga pendidikan tertentu.
  3. Tujuan Kurikuler, yaitu tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran.
  4. Tujuan Pembelajaran, yaitu bagian dari tujuan kurikuler yang dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki oelh anak didik setelah mempelajari materi tertentu dari guru.

Selain tujuan, kurikulum harus juga mempunyai isi yang berhubungan dengan pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa. Isinya sendiri menyangkut semua aspek, baik pengetahuan dikelas maupun kegiatan siswa.

Strategi dalam kurikulum itu diperlukan karena dengan strategi, langkah-langkah atau kebijakan-kebijakan yang diambil itu menjadi terarah dan saling berhubungan satu sama lain, tidak asal-asalan (baca: pragmatis) karena merupakan bagian dari strategi yang direncanakan. Maka sebenarnya strategi itu meliputi rencana, metode dan perangkat yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan.

Komponen yang terakhir merupakan komponen evaluasi, kita tentu sepakat bahwa kurikulum itu merupakan proses yang terus berjalan, memperbaiki yang dianggap salah dan senantiasa menyesuaikan dengan perubahan zaman. Oleh karena itu peranan evaluasi menjadi penting karena dengan evaluasi lah kita dapat memahami dan melihat sejauh mana efektivitas pencapaian tujuan terlaksana. Ada dua hal yang seringkali menjadi metode evaluasi, yakni bentuk berupa tes yang dilakukan untuk mengukur kemampuan kognitif siswa, adapula non tes yang biasanya dilakukan untuk menilai aspek tingkah laku yang juga tak kalah pentingnya dengan pengetahuan kognitif.

Sebagai makhluk yang senantiasa belajar, hendaknya kita memahami bahwa pendidikan senantiasa berubah, selalu berkembang ke arah yang lebih baik dan lebih baik lagi, dan begitupun halnya manusia. Namun ada yang tidak berubah, yaitu kesenangan dalam belajar yang merupakan akar filosofis dari pendidikan. Sebenarnya kurikulum diciptakan bukan agar manusia belajar, melainkan agar manusia bisa belajar lebih baik lagi. Oleh karena itu tujuan, isi, strategi dan evaluasi yang merupakan bagian dari kurikulum sendiri semata-mata berhubungan dan terintegrasi satu sama lainnya agar kita sebagai manusia dapat menikmati apa yang kita pelajari.

Referensi :

Tim Dosen Pengembang Kurikulum dan Pembelajaran. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: FIP.

Wikipedia. (2013).  Kurikulum. Online [Tersedia] : http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum [21 Februari 2013]

Landasan Pengembangan Kurikulum

Posted on

Suatu pohon butuh akar agar bisa berdiri kokoh, bangunan butuh fondasi dan struktur yang baik agar mampu bertahan melawan tiupan angin dan cuaca buruk, manusia sendiri butuh landasan-landasan yang kuat berupa ilmu yang berguna, dasar iman yang benar dan juga sikap mental yang kuat agar bisa tumbuh menjadi manusia yang berguna. Demikian juga kurikulum, kurikulum sebagai sentral pendidikan harus mempunyai landasan yang baik untuk bisa mengembangkan kurikulum ke arah yang lebih lagi sehingga tercapailah tujuan dari pendidikan itu sendiri.

Nah, jadi sekarang sudah jelaskan arah pembicaraan dari artikel ini menuju kemana? Ya, artikel ini insyaAllah akan membahas landasan pengembangan kurikulum yang tentu saja ditulis berdasarkan segala keterbatasan pengetahuan saya yang tak luput dari kesalahan, saya hanya ingin berbagi pengetahuan agar apa yang saya dan pembaca ketahui bisa berkembang ke arah yang lebih luas lagi. Landasan pengembangan kurikulum sendiri menurut buku kurikulum dan pembelajaran yang ditulis oleh Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran adalah “suatu gagasan, suatu asumsi atau prinsip yang menjadi sandaran atau titik tolak dalam mengembangkan kurikulum”. Nah dari pengertian itu, ada kata-kata “sandaran” yang juga berarti topangan, acuan atau dasar. Lalu jika demikian, apa kaitannya dengan kurikulum? Apa saja yang menjadi sandaran dari kurikulum?

Sistem kurikulum itu terdiri atas empat komponen, yaitu komponen tujuan, isi/materi, proses pembelajaran, dan komponen evaluasi. Secara umum dapat disimpulkan bahwa landasan pokok dalam pengembangan kurikulum yang menopang keempat komponen sistem kurikulum tersebut adalah landasan filosofis, landasan psikologis, landasan sosiologis, dan landasan ilmu pengetahuan dan teknologi.

1. Landasan Filosofis

Filsafat berasal dari kata Yunani kuno, yaitu dari kata “Philos” dan “Sophia”. Philos, artinya cinta yang mendalam¸dan Sophia adalah kearifan atau kebijaksanaan. Tujuan pendidikan harus mengandung ketiga hal, yaitu autonomi yang berarti memberi pengetahuan, kesadaran dan kemampuan yang sama kepada setiap individu dan kelompok, equity yang berarti pendidikan dapat diikuti oleh setiap lapisan masyarakat dan survival yang berarti pendidikan bukan saja harus dapat menjamin terjadinya pewarisan dan memperkaya kebudayaan dari generasi ke generasi akan tetapi juga harus memberikan pemahaman akan saling ketergantungan antara manusia.

2. Landasan Psikologis

Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan bahwa minimal terdapat dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum yaitu (1) psikologi perkembangan dan (2) psikologi belajar. Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya. Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang berhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum.

3. Landasan Sosiologis

Tempat mengayom pendidikan atau sekolah, dibuat agar anak-anak bisa belajar dasar-dasar kehidupan, khususnya bagaimana cara mereka berhubungan dalam kehidupannya di masyarakat. Dalam landasan sosiologis, sekolah bukan hanya berfungsi untuk mewariskan kebudayaan dan nilai-nilai suatu masyarakat, akan tetapi juga sekolah berfumngsi untuk mempersiapkan anak didik falam kehidupan masyarakat.

4. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

Perkembangan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, kurikulum seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidup manusia.

Secara umum, keempat landasan diataslah yang harus diperhatikan benar-benar apakah sudah menjadi acuan dari tiap-tiap komponen pendidikan atau belum. Jika belum, sudah tentu perlu dilaksanakan sehingga bisa dilihat hasilnya yang insyaAllah seperti yang diharapkan, yakni pendidikan di negara kita tercinta, Indonesia bisa sejajar atau bahkan melampaui pendidikan di negara-negara lainnya.

Referensi :

Tim Dosen Pengembang Kurikulum dan Pembelajaran. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: FIP.

Muhtar, Zulkifli. (2011). Makalah Landasan Pengembangan Kurikulum. Online [Tersedia] : http://blogzulkifli.wordpress.com/2011/06/06/makalah-landasan-pengembangan-kurikulum/ [13 Februari 2012]

Sudrajat, Akhmad. (2008). Landasan Pengembangan Kurikulum. Online [Tersedia] : http:// http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/22/landasan-kurikulum/ [13 Februari 2012]

Rohman, Ainur. (2012). Landasan Pengembangan Kurikulum. Online [Tersedia] : hhttp:// http://inong46.blogspot.com/2012/04/landasan-pengembangan-kurikulum.html [13 Februari 2012]

Hi.Story of My Life

Bahagia itu sederhana

Alyyanet's Blog

Only Read Unique Story

agamajinasi

mencoba terbang meski terikat

poetryblogofmine

A topnotch WordPress.com site

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

ISLAND IN THE SUN!

survival and catching dreams!

Alfira Fitrananda

to infinity and beyond

The notes of life :)

I have an idea about what I'm doing!

Viracanya's e-diary

Bontang. Groningen. Bandung. Jakarta

KutuBacaBuku

aku adalah seekor kutu tanpa kacamata

ilma ilmi apriliani

The Twins Blog

Readers Cafe

Culture, Life, Languages, Travel and much more!

a creation by a jundullah

Ilmu yang Bermanfaat, Salah Satu Amal yang Tidak akan Pernah Terputus

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.